Hari ini saya mempunyai pengalaman yang menarik untuk saya tulis. Sebagai guru seperti biasanya saya disapa oleh beberapa siswa dengan salam selamat pagi dan selamat siang. Pengalaman yang cukup menggelikan kalau ada siswa yang memberi salam selamat siang padahal masih pagi atau sebaliknya memperoleh salam selamat pagi padahal hari sudah terlampau siang. Pagi tadi saya memperoleh salam dari siswa dengan sopan dan sangat ramah, “Selamat pagi bapak Arif, hari ini kami akan berusaha belajar dengan semangat seperti saran bapak, semoga bapak mengajari kami dengan penuh kesabaran” Saya sedikit terkejut karena informasi siswa tadi, tetapi segera saya sadar bahwa sapaan siswa harus segera saya balas “Selamat pagi nak, saya bangga dengan kalian semua, memang kalian seharusnya bagitu agar keberadaan kalian di sekolah ini tidak sia-sia” Begitulah pengalaman saya itu saya angkat dalam tulisan ini. Sering kali kita melakukan tugas rutin itu seperti robot, yang memiliki mekanisme serba sama, monoton dan tak bernilai, bahkan kadang lebih parah karena tugas atau pekerjaan kita apapun bidang kita dilakukan sekedar menghabiskan waktu. Kita lupa bahwa pekerjaan kita dapat dilakukan dengan penuh kesadaran akan tanggung jawab. Dalam memberi semangat kepada relasi kita, teman kita, komunitas kita, diperlukan apresiasi yang tulus. Ucapan-ucapan kita dapat mempengaruhi kelangsungan hubungan timbal balik yang harmonis antara satu dengan yang lain. Terlebih kepada seseorang yang dalam keseharian selalu kita jumpai. Menyemangati relasi kita, teman kita maupun kelompok komunitas kita diperlukan kesungguhan hati, karena dengan kesungguhan hati kita akan memperoleh respon langsung dan apabila respon kita itu dapat berkenan dan dapat diterima, maka hubungan kita antara satu dengan yang lain akan dengan sendirinya tambah baik dan mendukung proses aktivitas kita. Menyapa dengan tulus akan memberikan dampak yang cukup positif dan kondusif dalam hubungannya dengan sesama. Pengaruh yang sangat berarti juga bagi kita sendiri, agar suasana yang sedang kita alami menjadikan suasana hati yang damai. Damai berarti kebebasan untuk melakukan aktivitas tanpa adanya gangguan, baik dari dalam diri kita sendiri maupun dalam diri orang lain. Semoga kita bisa belajar dari pengalaman banyak orang yang kita jumpai.
Sabtu, 26/08/07 01:40AM
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, September 08, 2007
Senin, Agustus 13, 2007
Kebiasaan Berbuat Baik
Kebiasaan berbuat baik itu perlu dilatih, berlatih artinya perbuatan kita melakukan tindakan sesuatu yang diulang. Jika perulangan itu dilakukan terus menerus, maka akan menjadi kebiasaan yang otomatis. Contohnya, ada seorang anak yang mempunyai kebiasaan selalu tidak melepas alas kaki (alias sendal) ketika masuk ruangan kamarnya sendiri. Akibat dari kebiasaannya ini menyebabkan kamarnya selalu cepat kotor dan berdebu. Pada suatu hari ibunya memperingatkan agar mulai besok ia tidak boleh menggunakan alasnya untuk dibawa masuk ke kamarnya dan untuk itu anak ini diminta untuk melepaskan sendalnya di depan pintu kamarnya sebelum masuk keruangan. Apa yang terjadi, pada hari pertama sejak diberlakukan peraturan dari ibunya, anak masih melakukan kebiasaan tidak melepas sendalnya, alias lupa. Pada hari itu ibunya masih memperingatkan agar untuk berikutnya tidak lupa. Hari kedua terjadi lagi bahwa sianak ini masih melakukan hal yang sama, tetapi sesampai di ruangan kamarnya ia sudah mulai sadar bahwa ia harus melepaskan sendalnya sebelum masuk ke kamar, lalu ia keluar lagi untuk melepaskan sendalnya. Ibunya sempat melihat kejadian ini, sambil menggelengkan kepalanya. Hari ketiga anak ini masih belum sadar bahwa ia harus melepaskan sendalnya ketika masuk kamar lagi, namun kali ini sianak cepat sadar ketika menginjakkan kakinya dilantai kamar ia sempat melangkahkan kaki dua langkah, kemudian sadar dan ia berbalik lagi keluar hanya untuk melepaskan sendalnya. Hari keempat anak sudah melepaskan sendalnya di depan pintu kamarnya sebelum memasuki ruangan. Hari kelima anak melepaskan sendalnya tanpa ragu lagi sebelum masuk ke kamarnya. Hari keenam dan seterusnya anak ini sudah mulai secara otomatis melepaskan sendalnya ketika memasuki kamarnya, bahkan pada suatu hari ketika ia terburu-buru untuk mengambil sesuatu di kamarnya sambil berlari melepaskan sendalnya. Begitulah kira-kira melatih perbuatan sehingga perbuatan itu menjadi kebiasaan. Alangkah baiknya apabila semua perbuatan baik dilakukan secara otamatis. Berdasarkan cerita ini saya ingin mengajak kepada siapapun agar berlatih melakukan aktivitas berbuat baik secara rutin layaknya kita melepaskan sendal.
Tebet, 01:26AM, 13/08/2007
Tebet, 01:26AM, 13/08/2007
Siapa Bisa Berprestasi?
Di suatu komplek perumahan baru di Jakarta, tinggallah beberapa keluarga muda yang berasal dari berbagai suku dan latar belakang di Indonesia. Ada Sunda, Jawa, Batak, Menado, Palembang, Nias, Madura, Cina dan lain-lain. Suatu sore kira-kira pukul 16.00 di hari minggu berkumpullah anak-anak yang rata-rata baru berumur di bawah 10 tahun di taman perumahan itu yang sengaja dibuat untuk bermain orang-orang yang tinggal di perumahan tersebut. Kebiasaan berkumpulnya anak-anak itu di setiap hari libur dimanfaatkan oleh pedagang balon udara. Di hari pertamanya tukang balon menjajakan dagangannya ia melepas balon berwarna putih. Ia menggunting salah satu dari balon-balon yang sudah diikatkan di boncengan sepedanya, maka terbanglah satu balon berwarna putih. Tiba-tiba salah satu anak yang kebetulan memperhatikan aksi pedagang itu tertarik untuk menghampiri tukang balon itu. Sambil berlari menghampiri pedagang, kemudian anak itu bertanya ”Bang, apakah balon hijau juga bisa terbang?” tanya anak itu sangat antusias. “Coba kamu lihat sendiri!” kata pedagang sambil menggunting tali ikatan balon berwarna hijau. Ada anak kedua menghampiri juga dan bertanya “Bang, apakah balon warna kesukaanku juga bisa terbang?” tanya anak kedua. “Warna kesukaanmu apa nak?” tanya pedagang balon. “Warna biru” jawab anak itu penuh semangat. “Coba kamu lihat sendiri!” kata pedagang sambil menggunting tali ikatan balon berwarna biru. Kali ini pedagang balon menjadi pusat perhatian, karena dengan serentak dihampiri oleh 4 anak sekaligus dan saling meneriakkan warna balon kesukaannya masing-masing “Bang yang kuning bang” teriak anak ketiga. “Bang yang merah bang” teriak anak keempat. “Bang yang jingga bang” teriak anak kelima. “Bang yang ungu bang” teriak anak keenam tidak mau kalah. Merasa dagangannya mulai diperhatikan kali ini pedagang mencoba untuk berkorban menerbangkan balon-balon yang diminta oleh anak-anak tersebut, karena ia berpikir sebagai umpan agar anak-anak itu tertarik dan diharapkan untuk membeli dilain kesempatan. Lalu ia potong tali balon kuning, merah, jingga dan ungu. Tetapi ditengah sorak sorai anak-anak menikmati balon warna kesukaannya terbang, ada anak yang dari semula memperhatikan balon-balon itu terbang satu persatu namun tidak ada satupun warna balon kesukaannya. Anak itu terdiam di samping pedagang balon sambil melihat balon-balon itu terbang dengan mata berkaca-kaca. “Nak, kenapa kamu terdiam saja? Bukankah balon-balon itu menarik ?” tanya pedagang ke anak tersebut. Anak itu tetap lama diam saja, sampai akhirnya pedagang itu mengulangi pertanyaan yang sama. Akhirnya anak itu mengucapkan kata-kata pelan sekali sepertinya kurang percaya diri. “Bang, apakah warna balon hitam bisa terbang ?” kata anak itu pelan. Merasa iba akhirnya pedagang balon itu membungkukkan badan sambil membisikkan kata di dekat telinga anak itu “Nak, yang membuat balon terbang itu bukan warnanya tetapi isinya, maka percayalah nak bahwa balon hitam juga bisa terbang”
Terbang = Prestasi, Warna = Penampilan, Isi (gas) = ilmu
Tebet, 00:06AM, 13/08/2007
Terbang = Prestasi, Warna = Penampilan, Isi (gas) = ilmu
Tebet, 00:06AM, 13/08/2007
Renungan Hari Ini
Tuhan, pada hari ini aku ingin mengingatkan pada diriku sendiri, agar Engkau tersenyum seperti yang aku andaikan Engkau dapat memperlihatkan senyuman itu kepadaku.
aku sering berkata-kata, sepantasnya kata-kata itu kuucapkan dengan kesadaran,
aku pernah berbuat, sepantasnya perbuatan itu sudah kupertimbangkan sebelumnya,
aku pernah mencela, sepantasnya celaan itu memang pantas,
aku pernah bersungut-sungut, sepantasnya bisa aku bicarakan bersama,
aku pernah menghukum, sepantasnya hukuman itu ada dasarnya,
aku pernah marah, sepantasnya orang yang aku marahi dibuat mengerti mengapa aku marah,
aku pernah bangga dengan profesi, sepantasnya aku mengusahakan semakin tekun,
aku sering memperoleh keselamatan, sepantasnya aku bersyukur kepada Engkau,
aku sering merasa lebih beruntung dari orang lain, sepantasnya aku berbagi pada sesama,
aku pernah membicarakan kejelekan orang lain, sepantasnya aku sadar juga memiliki kelemahan,
aku sering bangga dengan prestasi kelompokku, sepantasnya aku ikut memperjuangkan,
aku pernah melalaikan tugas, sepantasnya aku memperbaikinya,
aku pernah salah mengambil keputusan, sepantasnya aku harus belajar lagi,
aku pernah gagal, sepantasnya aku mengulangi,
aku pernah kurang teliti, sepantasnya aku bekerja dengan hati-hati,
aku pernah kecewa dengan orang lain, sepantasnya aku mengusahakan agar tidak mengecewakan orang lain,
aku sering terburu-buru, sepantasnya aku mengusahakan kematangan,
aku sering mengajari orang lain, sepantasnya aku mengusakan cara agar orang lain bisa mengerti,
aku sering menuntut orang lain, sepantasnya tuntutanku sesuai dengan kemampuan orang lain,
aku sering menghadapi berbagai tingkah laku, sepantasnya aku bersikap bijaksana,
aku sering bekerja keras, sepantasnya aku meluangkan waktu untuk istirahat,
aku sering melakukan pekerjaan dengan cara yang sama, sepantasnya aku dapat melakukan pekerjaan yang sama dengan cara lain,
aku sering melakukan pekerjaan tidak sendiri, sepantasnya aku berusaha untuk bekerja sama,
aku sering terhibur dengan keberadaan teman, sepantasnya aku saling menguatkan.
Tuhan, masih banyak lagi daftar tingkah lakuku dalam keseharian yang belum kuingatkan, tolong bantulah aku agar tingkah lakuku semuanya berkenan di hadapanMu.
Tebet, 03:00AM, 18/01/2007
aku sering berkata-kata, sepantasnya kata-kata itu kuucapkan dengan kesadaran,
aku pernah berbuat, sepantasnya perbuatan itu sudah kupertimbangkan sebelumnya,
aku pernah mencela, sepantasnya celaan itu memang pantas,
aku pernah bersungut-sungut, sepantasnya bisa aku bicarakan bersama,
aku pernah menghukum, sepantasnya hukuman itu ada dasarnya,
aku pernah marah, sepantasnya orang yang aku marahi dibuat mengerti mengapa aku marah,
aku pernah bangga dengan profesi, sepantasnya aku mengusahakan semakin tekun,
aku sering memperoleh keselamatan, sepantasnya aku bersyukur kepada Engkau,
aku sering merasa lebih beruntung dari orang lain, sepantasnya aku berbagi pada sesama,
aku pernah membicarakan kejelekan orang lain, sepantasnya aku sadar juga memiliki kelemahan,
aku sering bangga dengan prestasi kelompokku, sepantasnya aku ikut memperjuangkan,
aku pernah melalaikan tugas, sepantasnya aku memperbaikinya,
aku pernah salah mengambil keputusan, sepantasnya aku harus belajar lagi,
aku pernah gagal, sepantasnya aku mengulangi,
aku pernah kurang teliti, sepantasnya aku bekerja dengan hati-hati,
aku pernah kecewa dengan orang lain, sepantasnya aku mengusahakan agar tidak mengecewakan orang lain,
aku sering terburu-buru, sepantasnya aku mengusahakan kematangan,
aku sering mengajari orang lain, sepantasnya aku mengusakan cara agar orang lain bisa mengerti,
aku sering menuntut orang lain, sepantasnya tuntutanku sesuai dengan kemampuan orang lain,
aku sering menghadapi berbagai tingkah laku, sepantasnya aku bersikap bijaksana,
aku sering bekerja keras, sepantasnya aku meluangkan waktu untuk istirahat,
aku sering melakukan pekerjaan dengan cara yang sama, sepantasnya aku dapat melakukan pekerjaan yang sama dengan cara lain,
aku sering melakukan pekerjaan tidak sendiri, sepantasnya aku berusaha untuk bekerja sama,
aku sering terhibur dengan keberadaan teman, sepantasnya aku saling menguatkan.
Tuhan, masih banyak lagi daftar tingkah lakuku dalam keseharian yang belum kuingatkan, tolong bantulah aku agar tingkah lakuku semuanya berkenan di hadapanMu.
Tebet, 03:00AM, 18/01/2007
Langganan:
Postingan (Atom)
Kata Minat
- 01. Menyendiri itu baik jika dalam kesendirian Anda itu sedang melakukan rencana perbuatan baik untuk orang banyak (Arif)
- 02. Dua hal yang diberikan Tuhan pada kita yang kesatu tidak bisa diubah dan yang kedua bisa diubah. Tugas Anda memahami dua-duanya (Arif)
- 03. Lingkungan belajar yang baik itu dipilih dan diciptakan (Arif)
- 04. Anda akan dapat melihat sesuatu yang tidak terlihat setelah anda memutuskan untuk berusaha mencari tempat dari mana sesuatu itu bisa dilihat (Arif)