Tampilkan postingan dengan label Sharing Pengalaman Pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sharing Pengalaman Pribadi. Tampilkan semua postingan

Kamis, April 17, 2008

Benih-benih Cinta (2)

Saya memiliki kakak laki-laki karena saya nomor dua dari enam bersaudara. Ketika itu saya kira-kira berumur 9 tahun dan kakak berumur 11 tahun. Seperti biasa kami bermain ala permainan kampung. Setelah lelah bermain kami memotong tebu di kebun bersama-sama, tebu yang kami potong satu batang yang kebetulan sudah pantas untuk dipotong artinya kami memotong bagian batang yang sudah manis rasanya untuk dimakan. Setelah selesai mengupas tebu itu kakak saya berlaku tidak adil, karena dia memotong menjadi dua bagian yang tidak sama. Sudah saya duga sebelumnya pasti kakak akan mengambil bagian yang lebih panjang dari bagian saya. Benar ternyata kakak mengambil bagian yang lebih panjang. Kemudian saya tidak terima karena mendapat bagian yang lebih sedikit.
“Kenapa saya mendapat bagian yang pendek?” Kata saya
“Karena saya yang memotong di kebun dan sekaligus mengupasnya, sedangkan kamu tinggal makan” Kata kakak.
“Aku juga bisa mengupas tebu?” Kata saya
“Ia kakak percaya, tapi kakak takut kalau tangan kamu nanti kena pisau, karena kamu masih kecil” Kata kakak
“Saya tadi juga ikut ketika memotong tebu di kebun!” Kata saya
“Memang kamu ikut ke kebun, tapi kan kamu baru belajar supaya nanti bisa memotong tebu sendiri” Kata kakak
Kakak saya memang baik, selalu mengajari saya tentang banyak hal, tapi kali ini saya tidak terima mendapat bagian tebu lebih sedikit dari kakak. Karena itu senjata menangis saya keluarkan sambil merebut tebu yang ada di tangan kakak. Saya menangis sekeras mungkin agar terdengar oleh ibu dan bapak. Benar juga akhirnya bapak yang keluar rumah menghampiri kami berdua sambil membawa pisau.
“Ada apa berantem?” Tanya bapak
“Ini, saya diberi bagian tebu lebih sedikit dari kakak” Kata saya membela diri
“Ia tapi kan saya yang memotong dan mengupasnya, adik tinggal makan” Kata kakak juga membela diri
Kemudian bapak saya memberi pisau itu kepada saya dan kakak saya masih memegang pisau yang dipakai untuk mengupas tebu.
Setelah memberikan pisau itu kepada saya, bapak kemudian bicara lagi
“Ayo gunakan pisau itu dan silahkan berantem, siapa yang menang akan mendapat tebu itu semuanya” Kata bapak, kemudian berkata lagi.
“Bapak lebih baik memiliki anak satu dari pada anak dua berantem”
“Ayo, bapak akan lihat siapa yang menang”
Kami saling berpandangan, lama sekali hingga akhirnya.
“Kenapa tidak kalian lakukan?” Kata bapak
Kami menggelengkan kepala bersama-sama kemudian tertawa karena melihat bapak saya tertawa lucu.
“Kalau kamu tidak mau berantem menggunakan pisau itu, berarti kalian berdua anak-anak bapak sejati.
“Ayo, sekarang makan tebu bersama-sama bapak” Kata bapak sambil mengambil bagian tebu dari milik kakak.Malamnya saya bermimpi indah, jalan-jalan bersama kakak dan bapak pergi ke Borobudur.
Tebet, 5.31 PM Kamis, 17/04/2008

Senin, Agustus 13, 2007

Benih Cinta (1)

Ketika saya duduk di tingkat SMP, sekolahnya di ibukota kabupaten, sementara saya tinggal di desa ibukota kecamatan. Desa saya letaknya cukup terpencil oleh karena itu saya harus tinggal di kota supaya dekat dengan sekolahan saya. Setiap 3 minggu sekali saya harus pulang ke desa untuk mengambil beras dan uang saku selama saya tinggal di kota dan juga sekaligus berlibur dan bertemu dengan keluarga tercinta. Seperti biasa jika saya pulang ke desa yang jaraknya kurang lebih 25 km saya tempuh dengan naik sepeda kesayangan. Banyak suka duka dalam kerutinan pulang-pergi ke kampung halaman tersebut. Pada suatu kesempatan saya harus kembali ke kota untuk membawa beras seberat 25 kg di boncengan sepeda saya. Biasanya beras saya ikat di boncengan sepeda dengan tali secukupnya agar tidak jatuh gara-gara goncangan saya dalam mengayuh sepeda. Setelah pamitan dengan ibu , saya berangkat meninggalkan rumah dengan sepeda berikut berasnya. Ketika itu saya tidak pamitan dengan ayah karena ayah sedang main judi di lain desa. Ketika perjalanan baru kurang lebih menempuh 5 km dari rumah tiba-tiba saya dikejutkan oleh teguran orang yang tidak saya kenal di pinggir jalan. “Le berase kutah” dalam bahasa jawa yang artinya “Nak berasnya tumpah”, saya segera menghentikan sepeda kemudian melihat karung yang ada di boncengan. Benar juga, kata orang itu. Kemudian saya bengong di pinggir jalan itu lama sekali karena bingung harus meneruskan perjalanan atau kembali ke rumah. Setelah kebingungan saya berakhir, saya memutuskan untuk kembali ke rumah dengan alasan tidak mungkin saya membawa beras yang hanya tinggal separuh untuk diberikan pada ibu kos yang ada di kota. Setelah sampai kurang dari 500 meter dari rumah, saya berhenti lagi dan bingung kembali, karena saya mulai ragu dan tiba-tiba muncul dipikiran saya, saya menjadi takut dimarahi oleh ibu saya gara-gara tidak hati-hati dalam membawa beras. Cukup lama saya bengong dan duduk di tepi jalan. Sudahlah pikir saya, apapun yang terjadi saya tetap harus kembali ke rumah, toh sudah dekat lagi akan sampai di rumah. Sesampai di rumah, ibu saya tidak ada di rumah, kata nenek ibu sedang pergi untuk mengikuti doa lingkungan di tempat salah satu keluarga di desa saya. Saya pergi menjemput ibu dan menjumpainya di sana. Ibu saya keluar dari rumah keluarga itu, kemudian saya memberi tahu kejadian yang sebenarnya, ibu kaget karena saya kembali dikiranya terjadi sesuatu yang mencelakakan saya, tetapi setelah tahu kejadiannya kemudian ibu memeluk saya sambil mengucapkan kata-kata “O alah le-le, beras kutah ora opo-opo, isih bisa digoleki maneh” dalam bahasa jawa yang artinya “Ya ampun nak-nak, beras tumpah tidak apa-apa, kesempatan lain masih bisa dicari”, kata-kata ibu itu malah membuat saya menangis terharu, pada saat itulah saya merasakan cinta ibu yang begitu mendalam.

Tebet, 08.30 PM Rabu, 29/11/2006

Kata Minat

  • 01. Menyendiri itu baik jika dalam kesendirian Anda itu sedang melakukan rencana perbuatan baik untuk orang banyak (Arif)
  • 02. Dua hal yang diberikan Tuhan pada kita yang kesatu tidak bisa diubah dan yang kedua bisa diubah. Tugas Anda memahami dua-duanya (Arif)
  • 03. Lingkungan belajar yang baik itu dipilih dan diciptakan (Arif)
  • 04. Anda akan dapat melihat sesuatu yang tidak terlihat setelah anda memutuskan untuk berusaha mencari tempat dari mana sesuatu itu bisa dilihat (Arif)